Monday, January 7, 2013

Nabi Luth a.s.



Telah melekat di hatinya cinta pada Nabi Ibrahim, dan dia sangat mencintainya, Ibrahim adalah pamannya yang telah mengantarkannya kepada iman. Luth menemani Ibrahim berhijrah dari Mesir menuju Bait Al-Maqdis.
Mereka senantiasa melintasi gurun serta merobek rawa-rawa hingga mereka sampai di Kota Sodom, dst. Dan penduduk wilayah itu merupakan kaum yang sesat dan fasik, ingkar dan cabul. Mereka telah menganut ajaran yang sangat jelek dan berakhlak sangat rendah. Mereka tidak mencegah maksiat serta tidak menghalangi berbuat dosa. Dosa telah mengelilingi mereka, dan kejelekan-kejelekan menguasai mereka. Mereka merampok di jalan, brkhianat sesama kawan, serta mendatangkan kemungkaran di tempat-tempat mereka berkumpul. Jika seorang kawan berjalan kaki melewat mereka maka mereka menimpuknya dengan batu, melemparinya dengan kotoran, serta mengejeknya dengan kata-kata yang paling keji.

Sementara kaum dalam kesesatatn yang terus menerus dan dalam kedurhakaan yang mendalam, mereka telah mengutamakan kesesatan daripada petunjuk, kefanaan daripada kekalan. Setan telah menghiasi perbuatan-perbuatan mereka serta memalingkan mereka dari jalan kebenaran. Lalu Allah mengutus Luth a.s. diantara mereka. Luth memerintahkan mereka pada kebaikan, melarang mereka atas kemungkaran, menganjurkan mereka dalam kebaikan-kebaikan, dan mengharamkan mereka dalam kejahatan-kejahatan. “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini?” (Al-A’rof: 80), “Mengapa kamu mendatangi laki-laki dengan syahwat yang bukan kepada perempuan? Bahkan kamu adalah kaum yang bodoh.” (An-Naml: 55),”Apakah kamu patut mendatangi laki-laki, merampok di jalan, dan kamu mendatangkan kemungkaran pada tempat-tempat kamu berkumpul?” (Al-Ankabut: 29).
Luth a.s. tidak mengundang mereka dalam sebuah majelis kecuali pendengaran mereka tabuh atas dakwahnya, dan memperingati mereka atas buruknya balasan jika mereka tidak bertaubat dan berhenti. Dari awal dia telah memperingati mereka atas sunah-sunah Allah, dan menceritakan mereka tentang akibat fatal orang-orang yang ingkar serta kematian orang-orang yang lalai.
Akan tetapi kaum tersebut telah menanamkan hati-hati mereka dengan cinta keburukan, kemaksiatan mengalir dalam darah-darah mereka, telinga-telinga mereka menjadi tuli, mata-mata mereka ditutupi oleh pengelihatan yang kabur, hati-hati mereka dikepung oleh penguncian, maka orang yang memberiperingatan pun tidak bisa menghalangi mereka, serta orang yang memberi kabar gembira pun tidak dapat mengajak mereka pada ketaatan.
“Maka tiada jawaban kaumnya melainkan mereka berkata, “Datangkanlah kepada kami azab Allah jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”” (Al-Ankabut: 29)
Akan tetapi Luth a.s. tidak menyerah, dia bersikap ramah untuk mengajak mereka dan juga bersosialisasi dengan baik utntuk menarik perhatian mereka. Tidak ada satu pintu pun untuk memberi kabar gembira kecuali telah ia ketuk, dan tiada satu gang pun untuk memberi peringatan kecuali telah ia lewati. Dan terus berlangsung begitu siang dan malam, tiada henti dan bosan.
Kemudian kaum tersebut melihat bahwa cukuplah sudah. Hati-hati mereka telah sempit dengan dakwah Luth, kesabaran mereka telah hilang atas nasihat dan kebenaran Luth, mendidih sudah kemarahan mereka. Hati mereka yang dipenuhi oleh dendam dan diliputi oleh hasad membujuk mereka untuk mengeluarkan Luth dan orang-orang mukmin yang bersamanya dari desa mereka. Mereka berkata, “Keluarkanlah keluarga Luth dari negeri kamu, sesungguhnya mereka adalahorang-orang yang berlaku suci.” (An-Naml: 56)
Ketika Luth a.s. melihat pertentangan dari mereka, serta tekad mereka berpaling, Luth Menyumpahi mereka agar Allah menurunkan azab yang perih, menimpakan mereka seburuk-buruk pertaruhan, dan menurunkan atas mereka siksaan-Nya sebagai pengistirahatan bagi hamba yang baik dan pensucian Negara. Maka Allah marah atas kemarahannya, murka atas murkanya, mengabulkan doanya, menyauti permintaannya. Maka Dia mengutus Rasul-Nya yang karim, dan malaikat-malaikat-Nya yang agung. Maka para malaikat melewati Ibrahim, mereka member kabar gembira pada Ibrahim dengan anak yang pintar dan kedatangannya atas perintah yang besar dan bencana yang pedih.
Ibrahim berkata, {Berkata (Ibrahim), “Apakah urusan(kehendak) kamu hai rang-orang yang diutus?”} {Mereka berkata, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang durhaka(kaum Luth)} {Supaya kami timpakan atas mereka batu dari tanah yang keras} {Yang diberi tanda pada sisi Tuhan mu untuk (menyiksa) orang-orang yang melampaui batas} (Ad-Dzariyat: 31-34).{Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira dating kepadanya, dia membantah(utusan) kami tentang kaum Luth} {Sesungguhnya Ibrahim benar-benar penyantun lagi pengasih dan suka kembali(kepada Allah)} (Hud: 74-75). Ibrahim berharap agar kaum Luth masuk islam dan mereka menghindar dari yang lalu dan keluar dari kesesatan. Masih tersisa kesabaran dan percikan harapan. Dia takut azab akan menimpa pula orang-orang yang beriman dan menjawab dakwah Luth.
“Hai Ibrahim hindarkanlah(bantahan) ini, sungguh telah dating ketetapan Tuhan mu, dan sesungguhnya mereka itu akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak.” (Hud: 76). Telah diharuskan perintah mereka dan diwajibkan azab mereka, bebarnya penghancuran mereka, tidak dapat dihindari kebinasaan mereka, perintah Allah jika dating tak bisa dikembalikan, kemarahan-Nya tak bisa dipalingkan, dan akan turun rahmat Allah akan turun pada orang-orang mukmin selagi azab turun pada orang-orang kafir.
Ketika para malaikat berpisah dari Ibrahim a.s. dan datang ke bumi Sodom untuk menjalani perintah Tuhannya. Mereka memasuki desa dengan menyamar sebagai dua orang pemuda. Mereka menutupi cahaya matahari dengan cahaya mereka dan cahaya bulan purnama dengan keindahan mereka. Seorang budak wanita(putri Nabi Luth) mendatangi mereka dan meminta air untuk keluarganya.Dia takut atas mereka dari kaumnya, maka dia takut kejahatan kaumnya akan menimpa mereka(malaikat). Padahal dia tidak mengetahui mereka(malaikat), dia tidak bisa mencegah gangguan dan menyangkal perlakuan buruk.
Dan ketika kaum tersebut meminta jamuan padanya, dia bersegera menuju ayahnya dan bertanya padanya. Dia mengabarinya kabar kaum yang berwajah tampan dan keluhuran rupanya.
Saat itu kaum melarang Luth menerima 2 tamu yang datang pada malam hari, maka beliau jadi bingung atas mereka(2 tamu), lalu berfikir untuk meminta maaf pada mereka dan memberitahu hakikat permasalahannya. Tak lama kemudian sifat-sifat kebaikan Nabi Luth tetap memaksa untuk menerima kedua tamu tersebut. Lalu dia mengenakan pakaiannya dalam keadaan gelap malam dan membungkus tubuhnya dengan jubah dan keluar mendatangi mereka dengan berjalan hati-hati.
Ketika Luth menemui kaumnya, dia mengajak mereka ke tempatnya, mengajak mereka memasuki rumahnya, dan kebakaran di hatinya serta yang tersembunyi di hatinya membuat Nabi Luth takut kaumnya tahu bahwa dua tadi ada di rumahnya. Tapi beliau tidak bisa menolak. Dan ini membuatnya menjadi buruk, “Dan tatkala datang utusan-utusan(malaikat) kami kepada Luth, dia merasa susah dan sempit dadanya seraya berkata, “ini adalah hari yang amat sulit”.
Isteri Nabi Luth saat itu menemani kaum dan mendapingi mereka dalam perjalanan. Tak lama kemudian dia memberi tahu kabar tentang 2 pemuda tersebut dan menyebarkannya. {Dan datanglah penduduk kota dengan gembira} {Luth berkata, “Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku, maka janganlah kamu member malu kepadaku”} {Dan takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menghinaku} {Mereka berkata, “dan bukankah kami telah melarangmu dari(menerima) seseorang} (Al-Hijr: 67-70). Lalu peergi mendatangi rumah Luth a.s dan mendobrak pintunya untuk bisa masuk dan Nabi Luth melarangnya dan menghalangi masuknya mereka, dan dia mengusir mereka dan berkata, “Sekiranya aku mempunyai kekuatan mencegah kamu/ kalau aku dapat berlindung kepada 1 keluarga yang kuat9 niscaya aku mengusir kamu)” (Hud: 80).
Kemudian dia menginginkan untuk memalingkan mereka ke perkara yang lain, “Luth berkata, “Mereka anak perempuan(kaum) ku jika kamu hendak menikahinya”” (Al-Hijr: 71). Mereka lebih suci untuk kalian, dan lebih bersih untuk diri-diri kalian, dan lebih diridhoi Tuhan kalian, dan lebih hina disisi setan-setan kalian. “Mereka menjawab, “Sungguh engkau telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap anak-anak perempuan dan sesungguhnya engkau mengetahui apa yang kami inginkan”” (Hud: 79).
Ketika kaum dalam kesesatan mereka, mereka membuat pagar-pagar rumah. Mereka tidak peduli atas kesungguhan Luth dan musyawarahnya. Luth telah mengalami kesulitan dan keletihan yang beliau alami, dan tkesedihan telah menimpanya, yang mana kesedihan itu mampu menghancurkan gunung-gunung. Lalu malaikat mengatakan padanya, “Wahai Luth, sesungguhnya kita adalah pilarmu yang kuat. Dan akan datang kepada mereka azab yang tidak mungkin ditolak, dan sesungguhnya kita adalah utusan Tuhan mu. Mereka tidak akan bisa sampai pada kita. Maka pergilah kamu dengan keluargamu di malam hari.
Lalu mereka memerintahkannya membuka pintu, maka dia membukanya. Lalu Jibril a.s. meminta izin kepada Allah untuk menyiksa mereka, maka Allah mengizinkannya. Lalu Jibril mengibaskan kedua sayapnya dan hancurlah mereka, lalu menutupi mata-mata mereka hingga mengambil pengelihatan mereka. “Dan sungguh mereka membujuk Luth untuk membiarkan tamunya(malaikat), lalu kami butakan mata mereka” (Al-Qomar: 37). Maka mereka jadi tidak mengetahui jalan, dan tidak mengetahui jalan yang bena. Kemudian mereka lari ketakutan seraya berteriak, “Keselamatan…Keselamatan…”.
Ketika Luth mengetahui bahwa malaikat telah menghancurkan kaumnya, dia putus asa atas keimanan mereka, dan merasa letih dari penolakan mereka lalu berkata, “seandainya kalian menghancurkan mereka sekarang”, maka malaikat menjawab, “Sesungguhnya waktu yang telah disiapkan untuk mereka ialah subuh, Bukankah subuh itu sudah dekat?” (Hud: 81).
Ketika datang malam, Nabi Luth pergi bersama keluarganya meninggalkan kaum di permulaan malam. Dan ketika datang pagi hari, Malaikat Jibril memasukkan sayapnya di bawah desa itu lalu menggulingkannya dan menjadikan yang ada di atas menjadi di bawah, kemudian menghancurkan mereka dengan azab langit. {Dan kami hujani dengan batu berapi bertubi-tubi} {Yang diberi tanda dari sisi Tuhan mu dan siksaan itu tidak jauh dari orang-orang yang zalim} (Hud: 82-83).

No comments:

Post a Comment